Riset UNIMUGO Ungkap Tantangan Program Tripel Eliminasi Ibu Hamil di Kebumen


Gombong – Program tripel eliminasi bagi ibu hamil di Kabupaten Kebumen dinilai masih menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Hal tersebut terungkap dalam riset yang dipaparkan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO), Dr. Siti Mutoharoh, S.ST., MPH, dalam orasi ilmiah yang digelar Sabtu (9/5/2026).

Penelitian tersebut menyoroti pelaksanaan program tripel eliminasi yang bertujuan mencegah penularan HIV, Hepatitis B, dan sifilis dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, hingga menyusui.

Dalam paparannya, Dr. Siti menjelaskan bahwa riset yang dilakukan merupakan implementation research atau penelitian implementasi yang fokus melihat sejauh mana program kesehatan ibu hamil dijalankan sesuai standar pelayanan kesehatan.

Menurutnya, keberadaan program saja tidak cukup apabila pelaksanaannya di lapangan belum berjalan optimal dan merata. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan sangat dipengaruhi konsistensi pelayanan, edukasi masyarakat, serta keterlibatan berbagai pihak.

“Keberhasilan program kesehatan bukan hanya soal ada atau tidaknya program, tetapi bagaimana program itu dijalankan secara konsisten dan sesuai standar di lapangan,” ujar Dr. Siti dalam orasi ilmiahnya.

Ia mengungkapkan bahwa HIV, Hepatitis B, dan sifilis masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan ibu dan bayi. Ketiga penyakit tersebut memiliki risiko tinggi ditularkan dari ibu kepada anak apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Data penelitian menunjukkan bahwa cakupan pemeriksaan tripel eliminasi di Kabupaten Kebumen selama periode 2020 hingga 2023 masih berada di kisaran 75 hingga 84 persen. Angka itu dinilai masih di bawah target standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan minimal 95 persen pemeriksaan ibu hamil harus tercapai.

Meski demikian, penelitian juga mencatat bahwa seluruh ibu hamil yang dinyatakan positif telah memperoleh penanganan sesuai standar pelayanan kesehatan.

Menurut Dr. Siti, persoalan utama saat ini bukan terletak pada proses pengobatan, melainkan bagaimana meningkatkan kesadaran dan partisipasi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan lebih awal.

“Hasil penelitian menunjukkan tantangan utama bukan pada pengobatan, tetapi bagaimana menjangkau lebih banyak ibu hamil agar melakukan pemeriksaan sejak dini,” jelasnya.

Penelitian tersebut dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Tim peneliti menganalisis data program tripel eliminasi tahun 2020 hingga 2023 serta melakukan wawancara mendalam dengan berbagai pihak terkait.

Mulai dari bidan, petugas laboratorium, pengelola program kesehatan, hingga ibu hamil menjadi bagian dari proses penelitian untuk mengetahui hambatan nyata yang terjadi di lapangan.

Dari hasil penelitian, ditemukan sejumlah kendala yang memengaruhi capaian program. Salah satunya adalah masih kurangnya informasi yang diterima masyarakat terkait pentingnya pemeriksaan tripel eliminasi selama kehamilan.

Selain itu, terdapat variasi pelaksanaan layanan kesehatan di lapangan yang membuat kualitas pelayanan belum sepenuhnya seragam.

Faktor lain yang juga menjadi tantangan adalah rasa takut sebagian ibu hamil untuk menjalani pemeriksaan, keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan, hingga dukungan keluarga yang dinilai belum maksimal.

Meski menghadapi sejumlah hambatan, penelitian tersebut juga menemukan adanya faktor pendukung yang cukup kuat dalam pelaksanaan program. Salah satunya adalah peran aktif bidan dan kader kesehatan di tingkat masyarakat.

Bidan dan kader kesehatan dinilai memiliki kontribusi besar dalam memberikan edukasi, sosialisasi, serta pendampingan kepada ibu hamil agar lebih sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini.

Menurut Dr. Siti, keterlibatan tenaga kesehatan di tingkat akar rumput menjadi kunci penting dalam meningkatkan keberhasilan program tripel eliminasi di daerah.

Ia menekankan perlunya penguatan kebijakan dan standarisasi prosedur operasional pelayanan kesehatan agar pelaksanaan program di setiap fasilitas kesehatan dapat berjalan lebih optimal.

Selain itu, peningkatan pelatihan tenaga kesehatan, monitoring program secara berkala, serta edukasi kepada masyarakat juga dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan ibu hamil di Kebumen.

“Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada fasilitas layanan kesehatan, tetapi juga keterlibatan masyarakat, keluarga, kader, dan pemerintah desa,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Siti juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Gombong, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta para promotor dan keluarga yang telah mendukung penyelesaian studi doktoralnya.

Riset ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus rekomendasi bagi pemerintah daerah dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil di Kabupaten Kebumen.

Selain itu, hasil penelitian tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pemeriksaan kesehatan selama kehamilan sangat penting untuk melindungi ibu dan bayi dari risiko penyakit menular yang berbahaya.(KN/*)

0/Post a Comment/Comments

Busro Collection
Ads2