Mendikdasmen Soroti Pentingnya Murid Didengar, Sekolah Diminta Jadi Ruang Aman dan Nyaman


JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan pentingnya sekolah menjadi ruang yang aman, nyaman, sekaligus memberi kesempatan bagi murid untuk berekspresi dan didengar oleh guru. Pesan tersebut disampaikan saat menyoroti nilai-nilai pendidikan yang dapat dipetik dari film Freedom Writers.

Menurut Abdul Mu’ti, banyak anak yang dianggap bermasalah sebenarnya tidak memiliki ruang untuk menyampaikan perasaan maupun pendapat mereka. Akibatnya, sebagian murid memilih mengekspresikan diri melalui perilaku menyimpang yang justru berujung pada hukuman atau pelabelan negatif di lingkungan sekolah.

Ia menjelaskan bahwa guru memiliki peran besar dalam menciptakan suasana belajar yang sehat secara emosional. Ketika siswa diberi ruang aman untuk berbicara, didengar, dan dihargai, perubahan perilaku positif dapat tumbuh secara perlahan.

Dalam pandangannya, pendidikan saat ini tidak cukup hanya berfokus pada nilai akademik. Sekolah juga harus mampu menghadirkan lingkungan sosial yang mendukung perkembangan karakter dan mental peserta didik.

Abdul Mu’ti mencontohkan kisah dalam film Freedom Writers yang menceritakan perjuangan seorang guru muda menghadapi murid-murid dengan latar belakang keras dan penuh konflik. Melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan terbuka, para siswa perlahan berubah menjadi lebih percaya diri dan mampu berkembang secara positif.

Ia menilai pendekatan seperti itu penting diterapkan di dunia pendidikan Indonesia, terutama di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks. Banyak siswa saat ini menghadapi tekanan dari lingkungan, pergaulan, hingga media sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.

Selain itu, Mendikdasmen juga menyoroti masih adanya budaya pelabelan terhadap murid di sekolah. Menurutnya, label negatif yang diberikan kepada anak justru dapat membuat mereka semakin merasa tidak nyaman dan kehilangan motivasi belajar.

Karena itu, ia meminta para guru lebih mengedepankan pendekatan dialogis dibanding sekadar memberi hukuman. Guru diharapkan hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pendamping yang memahami kondisi peserta didik.

Pernyataan Abdul Mu’ti juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong terciptanya budaya sekolah aman dan nyaman. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebelumnya menegaskan bahwa pendidikan berkualitas hanya dapat terwujud apabila murid merasa terlindungi secara fisik maupun mental di lingkungan sekolah.

Dalam berbagai kesempatan, Kemendikdasmen juga menyoroti masih terjadinya kasus perundungan atau bullying di sekolah. Faktor persaingan sosial, gaya hidup, hingga lingkungan pergaulan disebut menjadi pemicu munculnya rivalitas antarmurid.

Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa sekolah seharusnya tidak menjadi tempat untuk menunjukkan perbedaan status sosial maupun kekayaan. Jika kondisi itu dibiarkan, sekolah justru berpotensi menjadi lingkungan yang tidak nyaman bagi peserta didik.

Pemerintah pun terus mendorong penguatan budaya sekolah yang lebih inklusif dan memuliakan manusia. Guru diminta tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga membangun hubungan yang sehat dengan murid.

Konsep pendidikan yang memanusiakan peserta didik dinilai menjadi salah satu kunci untuk menciptakan generasi yang lebih percaya diri, kreatif, dan memiliki empati sosial tinggi.

Pesan Mendikdasmen tersebut mendapat perhatian luas dari kalangan pendidik dan masyarakat. Banyak pihak menilai pendekatan pendidikan yang memberi ruang bagi siswa untuk didengar memang semakin penting di era sekarang, ketika tekanan mental pada anak dan remaja terus meningkat.

Dengan pendekatan yang lebih terbuka dan penuh empati, sekolah diharapkan bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh yang aman bagi setiap anak untuk mengembangkan potensi terbaiknya.(KN/*)

0/Post a Comment/Comments

Busro Collection
Ads2