Pada Minggu malam waktu setempat, Pahlavi memposting pesan yang langsung viral: "Kematian Ayatollah Khamenei menandai akhir efektif Republik Islam. Rezim ini, yang lahir dari kekacauan revolusi 1979, kini terlempar ke tong sampah sejarah. Rakyat Iran bebas untuk membangun kembali monarki konstitusional yang demokratis dan pro-kemajuan." Kata-kata ini bukan sekadar tweet biasa; ia mewakili klimaks dari perjuangan panjang Pahlavi sebagai simbol oposisi monarkis terhadap teokrasi Syiah di Teheran.
Latar belakang peristiwa ini berakar pada transisi kekuasaan yang genting di Iran. Khamenei, yang menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini – arsitek Revolusi Islam – meninggal dunia akibat komplikasi kesehatan yang dirahasiakan selama bertahun-tahun. Laporan dari agensi berita negara seperti IRNA mengonfirmasi kepergiannya pada Sabtu pagi waktu Teheran, memicu periode berkabung nasional selama tujuh hari. Jalan-jalan di ibu kota dipenuhi demonstran yang mencampurkan doa dengan ketakutan akan perebutan kekuasaan di kalangan elit Majlis Ahli Kepemimpinan dan Pengawal Revolusi Islam (IRGC).
Reza Pahlavi, putra sulung Shah Mohammad Reza Pahlavi – raja terakhir Iran sebelum Revolusi 1979 menggulingkannya – telah lama menjadi figur polarisasi. Ayahnya memerintah dengan dukungan Barat, memodernisasi Iran melalui Reformasi Putih yang membawa kemajuan ekonomi dan hak perempuan, meski dituduh otoriter. Pengasingan Pahlavi ke AS sejak 1979 membuatnya menjadi suara vokal bagi jutaan pengungsi Iran yang membenci rezim mullah. Saat ini, ia tinggal di pinggiran Los Angeles bersama istri dan tiga putrinya, sering berbicara di forum seperti National Union for Democracy in Iran (NUFDI).
Deklarasi ini langsung memicu gelombang reaksi global. Di X, hashtag #EndOfIslamicRepublic meroket dengan lebih dari 2 juta tayangan dalam hitungan jam. Komunitas diaspora di Los Angeles – termasuk acara di Little Persia, kawasan Tehrangeles – merayakannya sebagai panggilan kebangkitan. "Ini saatnya rakyat Iran bangkit melawan penindasan 45 tahun," kata seorang aktivis Iran-Amerika, Maryam Rajavi, dalam wawancara dengan media lokal. Namun, di Iran, sensor ketat membatasi penyebaran, meski pesan Pahlavi beredar melalui VPN.
Para analis internasional memberikan pandangan berimbang. Dr. Karim Sadjadpour dari Carnegie Endowment for International Peace menyebut pernyataan Pahlavi sebagai "provokasi cerdas tapi prematur." Ia menekankan bahwa Majlis Ahli, yang terdiri dari 88 ulama konservatif, akan segera memilih penerus Khamenei – kemungkinan besar figur garis keras seperti Mojtaba Khamenei, putranya, atau Ebrahim Raisi jika masih berkuasa. "Struktur konstitusional Iran dirancang tahan banting. IRGC memegang kendali militer, dan ekonomi yang terhimpit sanksi tak langsung runtuh hanya karena satu tweet," tambah Sadjadpour.
