Jakarta - Jaringan Geopark Indonesia (JGI) terus memperkuat posisi geopark sebagai pilar pembangunan berkelanjutan melalui safari audiensi ke sejumlah kementerian, lembaga nasional, hingga kantor UNESCO Jakarta pada 6–8 Mei 2026. Langkah strategis ini menjadi upaya memperkuat dukungan kebijakan, memperluas kolaborasi lintas sektor, sekaligus meningkatkan kapasitas pengelolaan geopark di Indonesia agar semakin profesional dan berdaya saing global.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung Ketua JGI, Dedy Irfan Bachri, dan diikuti para general manager serta perwakilan badan pengelola UNESCO Global Geopark (UGGp) dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu delegasi yang turut aktif dalam rangkaian audiensi adalah perwakilan Kebumen UNESCO Global Geopark bersama pengelola geopark lainnya dari Belitong, Toba Caldera, Rinjani-Lombok, Meratus, hingga Merangin Jambi.
Rombongan terdiri atas Etyn Yunita dari Sekretariat JGI sekaligus Belitong UGGp, Qwadru Putro Wicaksono selaku General Manager Rinjani-Lombok UGGp, Azizul Kholis Bin Zainal dari Toba Caldera UGGp, Marzuki dari Belitong UGGp, Ali Mustopa dari Badan Pengelola Meratus UGGp, Misnawati dari Merangin Jambi UGGp, Supriyanto dari Kebumen UGGp, hingga sejumlah pengelola dan pegiat geopark lainnya.
Safari audiensi ini menyasar sejumlah institusi strategis, mulai Kementerian Kehutanan, UNESCO Regional Office Jakarta, Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Kementerian Lingkungan Hidup, hingga Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Badan Pusat Statistik RI.
Ketua JGI, Dedy Irfan Bachri, mengatakan geopark saat ini tidak lagi dipandang semata sebagai kawasan konservasi geologi, melainkan telah berkembang menjadi ruang integrasi antara konservasi alam, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, penguatan sinergi lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak agar pengelolaan geopark mampu berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan.
“Kami mendorong sinergi yang lebih kuat agar geopark dapat berkembang secara berkelanjutan dengan dukungan kebijakan, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Dedy Irfan Bachri dalam rangkaian kegiatan audiensi tersebut.
Audiensi pertama berlangsung di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu 6 Mei 2026. Delegasi JGI diterima langsung oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko.
Dalam pertemuan tersebut, JGI membahas keterkaitan pengelolaan geopark dengan kawasan hutan konservasi dan hutan lindung yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem geopark. Sejumlah persoalan strategis turut mengemuka, seperti belum jelasnya batas kawasan geopark di beberapa wilayah konservasi, belum meratanya pemahaman pengelola kawasan terhadap konsep geopark, serta pentingnya penguatan koordinasi antarinstansi.
Diskusi juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan agar pengelolaan geopark tidak berbenturan dengan tata kelola kawasan hutan yang berada di bawah kewenangan kementerian dan pemerintah daerah. JGI berharap terdapat dukungan lebih konkret dalam bentuk regulasi maupun pendampingan teknis untuk pengelolaan kawasan berbasis konservasi terpadu.
Masih pada hari yang sama, rombongan JGI melanjutkan audiensi ke UNESCO Regional Office Jakarta. Delegasi diterima Director and Representative UNESCO Regional Office in Jakarta for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines and Timor-Leste, Maki Katsuno-Hayashikawa, serta Senior Programme Specialist and Chief of Natural Science Unit UNESCO Regional Office sekaligus Liaison to ASEAN, Engin Koncagul.
Turut mendampingi dalam pertemuan tersebut Adhe L Wulandari selaku Project Assistant Water and Environmental Sciences UNESCO Regional Office for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, the Philippines and Timor-Leste and Liaison to ASEAN.
Dalam forum itu, UNESCO Jakarta menyampaikan dukungannya terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola geopark di Indonesia. Bentuk dukungan tersebut meliputi pelatihan, workshop, hingga penguatan kelembagaan agar pengelola geopark mampu menghadapi tantangan global, termasuk proses revalidasi UNESCO yang dilakukan secara berkala.
UNESCO menilai kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga status UNESCO Global Geopark. Karena itu, penguatan kompetensi pengelola kawasan dinilai perlu dilakukan secara konsisten dan terstruktur.
Selain peningkatan kapasitas SDM, pembahasan juga mencakup promosi geopark Indonesia di tingkat internasional, pendampingan kawasan potensial menuju status UNESCO Global Geopark, serta penguatan sinergi multipihak dalam menjaga keberlanjutan kawasan.
UNESCO Jakarta turut mengapresiasi perkembangan geopark di Indonesia yang dinilai semakin aktif mengintegrasikan aspek konservasi, edukasi, budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat lokal dalam pengelolaannya.
Pada Rabu sore, JGI kembali melanjutkan agenda audiensi dengan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Rombongan diterima Ketua Harian KNIU, Prof Ananto Kusuma Seta.
Pertemuan tersebut membahas penguatan koordinasi kelembagaan antara geopark di Indonesia dengan UNESCO melalui mekanisme nasional. Dalam forum itu, JGI juga menyampaikan sejumlah program prioritas yang sedang dikembangkan, mulai dari penguatan pendidikan berbasis geopark di sekolah, pelibatan generasi muda dalam pelestarian warisan geologi, hingga integrasi nilai-nilai geopark ke dalam sistem pendidikan nasional.
Prof Ananto Kusuma Seta menegaskan bahwa geopark memiliki fungsi lebih luas dibanding sekadar kawasan konservasi geologi. Menurutnya, geopark merupakan ruang pembelajaran yang menghubungkan aspek pendidikan, budaya, lingkungan, hingga kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong agar pengembangan geopark di Indonesia tidak hanya berfokus pada aspek wisata, tetapi juga mampu menjadi media edukasi dan penguatan karakter generasi muda.
Memasuki hari kedua, Kamis 7 Mei 2026, JGI menggelar rapat internal guna membahas persiapan Geofest 2026 sekaligus memperkuat jejaring geopark nasional. Forum internal tersebut menjadi ruang koordinasi antar pengelola geopark dalam menyusun agenda promosi, pengembangan kawasan, serta strategi penguatan kelembagaan ke depan.
Di hari yang sama, JGI juga menjajaki peluang kerja sama dengan sektor swasta melalui audiensi di Wisma Bumiputera Jakarta. Pembahasan difokuskan pada kemungkinan dukungan asuransi bagi aktivitas outdoor dan geotrail di kawasan geopark yang memiliki potensi wisata petualangan.
Kerja sama dengan sektor swasta dinilai penting untuk mendukung keamanan dan kenyamanan wisatawan, sekaligus meningkatkan standar pengelolaan destinasi wisata berbasis alam.
Selanjutnya, JGI melakukan audiensi dengan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan diterima Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Ir Inge Retnowati ME.
Dalam pertemuan tersebut, JGI mendorong penguatan identifikasi dan pendataan biodiversitas di seluruh kawasan geopark sebagai bagian dari strategi konservasi berkelanjutan. Pendataan biodiversitas dinilai penting karena kawasan geopark tidak hanya menyimpan warisan geologi, tetapi juga kekayaan hayati yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Penguatan data biodiversitas diharapkan mampu mendukung pengembangan program konservasi yang lebih terarah sekaligus memperkuat posisi geopark sebagai kawasan berbasis pelestarian lingkungan.
Safari audiensi ditutup pada Jumat 8 Mei 2026 melalui pertemuan dengan Kementerian PPN/Bappenas dan BPS RI di Jakarta. Audiensi diterima langsung Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, serta Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti.
Dalam forum tersebut, JGI mendorong percepatan revisi Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Geopark Nasional. Revisi regulasi dinilai penting untuk memperkuat tata kelola kelembagaan geopark, memperjelas koordinasi lintas sektor, serta membuka peluang akses pendanaan internasional.
Selain itu, pembahasan juga mencakup rencana penyusunan coffee table book geopark Indonesia sebagai sarana promosi global. Buku tersebut diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati geopark Indonesia kepada dunia internasional.
Tak hanya itu, JGI bersama BPS RI juga membahas pengembangan statistik geopark nasional, termasuk data kunjungan wisata, dampak ekonomi terhadap masyarakat sekitar, hingga kontribusi geopark terhadap pembangunan daerah.
Data statistik yang akurat dinilai menjadi kebutuhan penting untuk mengukur efektivitas pengelolaan geopark sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan pengembangan kawasan di masa mendatang.
Safari audiensi JGI ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan geopark Indonesia di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap kawasan berbasis konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Sebagai salah satu negara dengan jumlah UNESCO Global Geopark terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadikan geopark sebagai instrumen pembangunan yang tidak hanya menjaga warisan bumi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Melalui dukungan lintas sektor, penguatan kelembagaan, serta kolaborasi nasional dan internasional, geopark Indonesia diharapkan semakin berkembang menjadi kawasan yang profesional, berdaya saing global, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.
