Penanaman vetiver dilakukan di sepanjang tanggul sungai, baik di sisi selatan maupun utara jembatan Desa Sidomukti. Lokasi tersebut sebelumnya menjadi titik rawan, terutama pasca kejadian jebolnya tanggul pada tahun 2024 yang sempat menimbulkan kekhawatiran warga sekitar.
Rumput vetiver dipilih sebagai solusi alami untuk memperkuat struktur tanah pada tanggul. Tanaman ini dikenal memiliki akar yang panjang dan kuat, sehingga efektif menahan erosi serta memperkokoh tanah di daerah rawan longsor atau abrasi. Upaya ini sekaligus menjadi langkah lanjutan setelah penanganan tanggul dilakukan pada tahun sebelumnya.Menariknya, bibit vetiver yang digunakan dalam kegiatan ini berasal dari hasil pengembangan tanaman yang sebelumnya telah ditanam di lokasi yang sama pada tahun 2025. Saat itu, penanaman dilakukan sebagai bagian dari rehabilitasi pasca jebolnya tanggul, dan hasilnya kini dinilai cukup berhasil serta dapat dikembangkan untuk wilayah lain.
Kepala Desa Sidomukti dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial dalam rangka HKB, tetapi merupakan langkah konkret untuk meningkatkan ketahanan desa terhadap ancaman bencana.
“Kami ingin menjadikan momentum Hari Kesiapsiagaan Bencana ini sebagai pengingat bahwa mitigasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Penanaman vetiver ini adalah bagian dari ikhtiar kami agar kejadian tanggul jebol tidak terulang kembali,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan penanaman vetiver sebelumnya menjadi motivasi bagi pemerintah desa untuk memperluas penerapan metode ini. Selain ramah lingkungan, biaya yang dibutuhkan relatif terjangkau karena bibit dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
“Kami bersyukur karena bibit yang ditanam tahun lalu bisa tumbuh dengan baik dan sekarang bisa dimanfaatkan kembali. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu mandiri dalam upaya mitigasi bencana,” tambahnya.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Desa Sidomukti, kelompok Desa Tangguh Bencana (Destana), tim SAR Elang Perkasa, hingga warga setempat yang secara gotong royong ikut ambil bagian dalam proses penanaman. Suasana kebersamaan tampak kental, mencerminkan semangat kolaborasi dalam menghadapi potensi bencana.
Salah satu relawan yang terlibat menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan.
“Kami berharap masyarakat semakin paham bahwa mitigasi itu penting. Tidak harus menunggu bencana datang, tapi bagaimana kita bisa mencegah sejak dini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kebumen memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Sidomukti. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan semangat HKB yang menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Tema Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun ini adalah membangun budaya sadar bencana. Apa yang dilakukan oleh Desa Sidomukti ini merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat bisa berperan langsung dalam mitigasi,” jelasnya.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat direplikasi di desa-desa lain, khususnya yang memiliki potensi kerawanan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
“Vetiver ini salah satu solusi berbasis alam yang efektif. Jika dikelola dengan baik, manfaatnya bisa sangat besar dalam jangka panjang. Kami mendorong desa lain untuk mengadopsi langkah serupa,” tambahnya.
Selain sebagai upaya mitigasi, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Penanaman vetiver tidak hanya berfungsi memperkuat tanggul, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar sungai.
Warga yang ikut serta dalam kegiatan tersebut mengaku senang bisa terlibat langsung. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara rutin, sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan.
Dengan adanya kegiatan ini, Pemerintah Desa Sidomukti menunjukkan komitmennya dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana. Kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Momentum HKB 2026 pun dimanfaatkan secara optimal, tidak hanya sebagai peringatan, tetapi juga sebagai aksi nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Upaya kecil seperti penanaman vetiver ini diharapkan mampu menjadi langkah besar dalam mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
