Kebumen – Upaya pencarian korban kecelakaan laut di kawasan Pantai Setrojenar akhirnya membuahkan hasil. Setelah dua hari dilakukan operasi pencarian intensif, satu korban atas nama Ihsan Nur Awali berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Sabtu pagi, 4 April 2026 sekitar pukul 07.00 WIB.
Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di tengah laut, dengan jarak kurang lebih 1 kilometer ke arah barat dari titik lokasi kejadian atau Last Known Position (LKP). Penemuan ini menjadi titik terang dari pencarian yang melibatkan berbagai unsur penyelamat sejak insiden terjadi pada Kamis, 2 April 2026.
Koordinator Operasi SAR dari Basarnas Cilacap, Trisno, menjelaskan bahwa korban ditemukan saat tim melakukan penyisiran di perairan menggunakan perahu LCR (Landing Craft Rubber). Kondisi gelombang yang relatif bersahabat pada pagi hari membantu tim dalam memperluas jangkauan pencarian.
“Korban ditemukan di tengah laut sekitar satu kilometer dari LKP ke arah barat. Selanjutnya korban langsung dievakuasi menggunakan LCR menuju daratan untuk penanganan lebih lanjut,” ungkap Trisno.
Setelah berhasil dievakuasi ke darat, jenazah korban kemudian dibawa ke RSUD dr. Soedirman Kebumen untuk dilakukan proses identifikasi oleh tim medis dan pihak berwenang. Dari hasil identifikasi tersebut, dipastikan bahwa korban adalah Ihsan Nur Awali, salah satu dari tiga anak yang sebelumnya dilaporkan terseret ombak.
Usai proses identifikasi selesai, jenazah Ihsan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga dan diantar ke rumah duka yang berada di RT 01 RW 01 Desa Banjurmukadan, Kecamatan Buluspesantren. Suasana duka menyelimuti kedatangan jenazah, dengan keluarga dan warga sekitar yang telah menunggu sejak pagi hari.
Peristiwa tragis ini bermula pada Kamis siang, 2 April 2026 sekitar pukul 14.30 WIB. Tiga anak asal Desa Banjurmukadan diketahui tengah berwisata di kawasan Pantai Brecong, yang masih berada dalam wilayah pesisir selatan Kabupaten Kebumen. Ketiganya yakni Ihsan Nur Awali, Andika Rizki Maulana, dan Regi Maulana.
Menurut informasi yang dihimpun, awalnya mereka bermain di sekitar Pantai Brecong. Namun, karena diduga ingin mencari lokasi yang lebih sepi, ketiganya kemudian bergeser ke arah barat menuju wilayah antara Pantai Brecong dan Pantai Setrojenar.
Lokasi tersebut dikenal relatif lebih sepi dari pengunjung, namun memiliki karakter ombak yang tidak kalah berbahaya. Saat sedang bermain di tepi pantai, tiba-tiba datang gelombang besar yang langsung menghantam dan menyeret ketiganya ke tengah laut.
Kejadian berlangsung sangat cepat sehingga ketiganya tidak sempat menyelamatkan diri. Beruntung, salah satu korban yakni Regi Maulana berhasil diselamatkan oleh seorang pemancing yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Regi kemudian dievakuasi dalam kondisi selamat, meskipun mengalami syok.
Sementara itu, dua korban lainnya, Ihsan Nur Awali dan Andika Rizki Maulana, terseret arus dan hilang dari pandangan. Sejak saat itu, upaya pencarian langsung dilakukan oleh tim SAR gabungan.
Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas Cilacap, BPBD, TNI/Polri, relawan, hingga masyarakat setempat. Pencarian dilakukan dengan berbagai metode, baik melalui jalur laut maupun darat.
Tim SAR menggunakan perahu LCR untuk menyisir area perairan yang diduga menjadi lokasi hanyutnya korban. Selain itu, penyisiran juga dilakukan sepanjang garis pantai untuk mengantisipasi kemungkinan korban terdampar.
Teknologi juga turut dimanfaatkan dalam operasi ini, salah satunya dengan penggunaan drone thermal untuk membantu mendeteksi keberadaan korban dari udara, terutama pada area yang sulit dijangkau secara langsung.
Selama dua hari pencarian, tim menghadapi berbagai tantangan, termasuk kondisi gelombang laut selatan yang cukup dinamis. Meski demikian, koordinasi antar tim tetap berjalan dengan baik sehingga pencarian dapat dilakukan secara maksimal.
Ditemukannya Ihsan Nur Awali memberikan kepastian bagi keluarga yang selama ini menanti dengan penuh harap. Namun di sisi lain, pencarian terhadap satu korban lainnya, Andika Rizki Maulana, masih terus dilanjutkan.
Trisno menyampaikan bahwa operasi SAR akan tetap dilaksanakan hingga seluruh korban ditemukan. Pihaknya juga mengimbau masyarakat, khususnya pengunjung pantai selatan, agar selalu waspada terhadap potensi bahaya ombak besar.
“Kami mengingatkan kepada masyarakat agar tidak bermain terlalu ke tengah, serta selalu memperhatikan kondisi sekitar dan peringatan dari petugas,” tambahnya.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kawasan pantai selatan memiliki karakter gelombang yang kuat dan tidak dapat diprediksi. Keindahan pantai harus diimbangi dengan kewaspadaan tinggi demi keselamatan bersama.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap satu korban yang belum ditemukan. Harapan besar masih menyertai proses pencarian agar korban segera ditemukan dan dapat dipulangkan ke pihak keluarga.


