Tragedi Tenggelam Anak 11 Tahun di Sungai Kedungbener, Kebumen


Kebumen – Tragedi pilu menimpa keluarga di Desa Wonosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Seorang anak lelaki berusia 11 tahun, Alfian Rizky Sasmito, ditemukan meninggal dunia setelah diduga tenggelam di bendungan Plered Pesucen, kawasan Sungai Kedungbener. Peristiwa nahas ini terjadi pada Jumat, 13 Februari 2026, sekitar pukul 13.45 WIB.

Korban yang akrab disapa Alfian merupakan warga Desa Tanahsari, Kecamatan Kebumen. Bocah ceria itu diketahui pergi mandi bersama teman-temannya di bendungan yang dikenal dalam oleh warga setempat. Menurut keterangan awal dari kepolisian, Alfian diduga tak mampu mengatasi derasnya arus air saat bermain di sungai. Debur ombak yang tiba-tiba meningkat membuatnya panik dan hilang dari pandangan rekannya. 

Kronologi Tragis Penemuan Jenazah

Sore itu, suasana bendungan Plered Pesucen yang biasanya ramai anak-anak bermain berubah mencekam. Sekitar pukul 13.45 WIB, teman-teman Alfian berteriak histeris meminta tolong setelah melihat bocah tersebut terseret arus kuat. Warga sekitar langsung berbondong-bondong ke lokasi, sementara informasi cepat menyebar ke Pos Polisi Wonosari dan relawan SAR setempat.

Petugas Polsek Kebumen yang menerima laporan segera bergerak. Tim Rescue Gabungan Polres Kebumen, BPBD, dan nelayan desa dikerahkan dengan perahu karet dan pelampung. Pencarian dilakukan intensif hingga malam, meski cuaca mendung dan debit air membengkak akibat hujan deras dua hari sebelumnya. "Arus di bendungan ini memang licin dan dalam. Kita prioritaskan zona 500 meter dari titik hilang," ujar Kasubsi Humas Polres Kebumen, AKP Suryadi saat dikonfirmasi.

Jenazah Alfian akhirnya ditemukan sekitar pukul 18.30 WIB, terapung 1,2 kilometer dari lokasi kejadian, di perbatasan Desa Wonosari-Tanahsari. Tim medis dari Puskesmas Kebumen memastikan bocah itu meninggal akibat tenggelam. Keluarga yang menerima kabar duka langsung terhuyung. Ibu korban, Siti Nurhaliza (38), ambruk menangis di pelukan warga. "Anakku pintar, baru kemarin belajar sepeda. Kenapa harus begini," isaknya.

Faktor Cuaca Ekstrem Perparah Situasi

Petugas menyatakan debit Sungai Kedungbener meningkat 40% akibat hujan lebat sejak awal Februari. Bendungan Plered Pesucen, yang biasanya dangkal, berubah jadi zona bahaya dengan kedalaman 3-5 meter. "Musim hujan bikin sungai liar. Kita sudah pasang spanduk larangan mandi, tapi anak-anak polos," tutur Pak RT Wonosari, H. Jumadi (55).

Data BPBD Kebumen mencatat 12 kasus tenggelam di wilayah Kebumen sejak Januari 2026, mayoritas anak-anak di bawah umur. Bendungan ini memang populer sebagai tempat berenang gratis, tapi minim pengawasan. Korban diduga tergelincir saat mengejar bola yang terbawa air deras, lalu tersedot pusaran. 

Respons Aparat dan Pesan Pencegahan

Kapolsek Kebumen, AKP Joko Widodo, menurunkan patroli rutin di 15 bendungan rawan. "Kami koordinasi dengan Koramil dan pemdes untuk pos jaga permanen. Anak-anak dilarang main sungai sendirian," tegasnya. Pemkab Kebumen melalui Dinas Lingkungan Hidup siapkan papan peringatan HDPE dan pagar pembatas sementara.

Kepala BPBD Kebumen, Ir. Bambang Suryono, mengimbau orang tua waspadai anak di musim hujan. "Sungai bukan taman bermain. Ajarkan anak renang dasar dan patuhi larangan. Siaga SAR 24 jam di nomor 112," pesannya. Program "Kebumen Aman Air" bakal diluncurkan Maret 2026, termasuk pelatihan life guard untuk pemuda desa.

Duka Keluarga dan Solidaritas Warga

Desa Tanahsari menggelar doa bersama malam itu. Alfian, siswa kelas 5 SD Negeri 1 Tanahsari, dikenang sebagai anak rajin dan suka sepak bola. "Dia mimpi jadi polisi. Semalam masih cerita mau sahur bareng ayah," kenang gurunya, Bu Rini (42). Pemakaman digelar keesokan harinya di pemakaman umum desa, dihadiri ratusan warga dan Forkopimca.

Kejadian ini jadi tamparan keras bagi masyarakat agraris Kebumen. Solidaritas muncul cepat: PKK desa kumpulkan sumbangan untuk keluarga, sementara relawan pemuda pasang jaring pengaman darurat. "Kita kehilangan generasi muda. Mari jaga anak kita bersama," himbau Camat Kebumen, Eko Supriyanto.

Tragedi Alfian Rizky Sasmito jadi pengingat pahit bahaya alam liar. Di tengah musim hujan 2026, warga Kebumen kini lebih waspada. Semoga arwahnya husnul khotimah, dan kejadian serupa tak terulang. Waspada sungai, lindungi anak – pesan yang kini bergema di setiap rumah tangga.
Previous Post Next Post