![]() |
| Kopi Gemplong Produk UKM Desa Giritirto Kec. Karanggayam.(Foto:Istimewa) |
Menariknya, kopi tersebut diproses secara manual dengan ditumbuk (digemplong). Penanganannya pun tidak boleh dilakukan sembarangan orang, lantaran harus melibatkan ibu-ibu. Sehingga, keberadaan kopi gemplong yang kini sudah dalam kemasan apik itu mampu memberdayakan kaum hawa setempat. "Dan ibu-ibu yang menumbuk kopi gemplog ini juga bukan asal-asalan. Karena dalam penanganannya harus menggunakan krenteg (suasana kebatinan yang cocok) serta feeling yang tepat," kata Teguh Prasetyo yang juga mantan Kades Giritirto.
Dalam sekali tumbukan, kata Teguh, harus diikuti zikir. Dengan demikian, proses pembuatan kopi gemplong itu sarat dengan nilai-nilai spiritual serta mengagungkan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Ibu-ibu yang menumbuk biji kopi itu juga harus memiliki kesabaran serta keikhlasan.
Mereka juga keturunan dari penumbuk kopi gemplong. Di mana secara turun-temurun menumbuk kopi menggunakan peralatan alu (tongkat kayu) dan wadah batu yang diisi biji kopi tersebut. "Betapa elok proses pembuatannya, maka tidak berlebihan jika kopi gemplong nikmatnya bikin hati plong," sergah Teguh.
Teguh yang menjadi pengepul itu mengaku mendapatkan biji kopi dari hasil kebun warga setempat. Menurutnya, kopi gemplong merupakan kopi lokal yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Keberadaan sebelum ini hanya dikonsumsi pribadi dan tidak dipasarkan.
Luas lahan tanaman kopi di Desa Giritirto sekitar 45 hektare. Hingga kemudian, potensi lokal itu dikembangkan atas inisiatif Teguh dengan kemasan kopi gemplong yang apik. Kini, warga setempat ramai-ramai memanfaatkan lahan sekitar rumahnya untuk ditanami pohon kopi. Pengembangan tanaman tersebut dengan cara distek. "Di sini jenis kopi robusta yang bijinya kecil-kecil," terang Teguh sembari menunjukkan tanaman kopi yang mulai tumbuh di kebun warga itu.
Menurutnya, dari pengembangan kopi gemplong tersebut telah menghasilkan perkumpulan yang diberi nama Sinau Ngobati Telenging Ati (Subileng) atau belajar mengasah hati. "Setiap kali pertemuan, sajiannya ya kopi gemplong untuk teman diskusi," imbuh Teguh.
Ia menjelaskan, kopi gemplong menjual warisan leluhur serta proses pembuatannya, yakni dengan cara di-gemplong. Meskipun butuh waktu lama dan tidak bisa dilakukan sembarangan orang, Teguh memastikan akan terus mempertahankan kopi gemplong. "Kalau diganti dengan digiling, maka sudah bukan kopi gemplong lagi namanya," jelasnya.
Untuk harga kopi gemplong Rp 45.000 ukuran 200 gram. Sejumlah pihak berminat umbuk membeli kopi gemplong. Baik dari dalam maupun luar negeri. Termasuk dari Korea yang berani membeli dengan harga di atas pasaran. Namun kendala produksinya masih terbatas. Untuk satu bulan paling hanya satu kuintal. Saat ini Kopi Gemplong sedang mengurus perijinan sertifikasi Halal dari MUI. "Berharap ada campur tangan pemkab untuk mengembangkan kopi gemplong."pungkas Teguh (*)
