![]() |
| Alun-alun Kota Semarang |
Penghargaan tersebut diberikan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Perbara) di Brunei Darussalam, Kamis (16/1/2020).
Predikat Kota Wisata Terbersih di Asia Tenggara akan dipegang Kota Semarang selama dua tahun ke depan, hingga 2022.
Hal tersebut tentunya memperkuat Kota Semarang sebagai salah satu kota tujuan wisata utama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Penghargaan tersebut menjadi lebih istimewa karena pada 2018 Kota Semarang juga sempat masuk nominasi. Namun, baru mampu meraih kemenangan pada ajang selanjutnya.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, SE, M tidak bisa hadir menerima penghargaan tersebut sehingga diwakili Sekda Kota Semarang Iswar Aminuddin.
Bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, inovasi tersebut juga dilakukan masyarakat. Masyarakat merupakan faktor utama terinisiasinya berbagai inovasi di Kota Semarang.
“Dibukanya ruang keterlibatan masyarakat yang luas dalam pembangunan memicu kepedulian warga menjadi lebih tinggi,” ungkap Hendrar.
Selain dalam inovasi, masyarakat juga terlibat dan mendukung gerakan Semarang Wegah Nyampah (Semarang Tidak Mau Nyampah), yang diinisiasi Pemerintah Kota Semarang.
“Ini bukti sepanjang kita bersama-sama mau berubah, maka tendangan untuk mewujudkan perubahan ke arah positif semakin kuat,” katanya.
Konsep pembangunan Bergerak Bersama semakin lama semakin terlihat hasilnya, seperti dicontohkan di Tegalsari ini ada Kampung Tematik Bank Sampah yang mengelola barang tidak terpakai menjadi bermanfaat. Hasilnya untuk sedulur-sedulur yang ingin ikut BPJS tapi tidak mampu.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Indriyasari, predikat Asean Clean Tourist City Standard akan mendorong lompatan besar dalam sektor pariwisata Kota Semarang.
“Di 2019 target kunjungan 7,2 juta wisatawan tercapai. Semoga dengan predikat ini semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang,” kata Indriyasari.
Berbagai inovasi pengendalian sampah diupayakan sejalan dengan kebijakan pembangunan Semarang sebagai kota wisata. (Red MG/*)
